Urusan yang paling tidak boleh tidak diabaikan adalah makan. Oleh sebab itu mungkin mengapa Direktur baru FAO belum apa-apa pada statemen pertama saat menduduki jabatannya beberapa bulan silam seolah mendapat wangsit dari langit ketujuh bahwa isu strategis masa depan dunia adalah naiknya harga pangan yang menyolok dan terus menerus hingga tahun 2030-an, seolah beliau tahu sebelum terjadi. Penjelasan logis beliau adalah kegagalan panen secara merata di dunia akan meningkat akibat kekacauan iklim/musim yang bakal menjadi-jadi lantaran bolong-bolong lapisan ozon di langit belum diketemukan bahan tambalannya.
Bertali temali dengan pikiran liar Pa Direktur baru FAO itu adalah sejarah alasan yang disodorkan beberapa pengamat ekonomi global mengenai mengapa resesi dunia 1929-1939 berkepanjangan (10 tahun) dan begitu memberatkan sehingga sejarah mencatatnya sebagai the great depression. Berkat kerajinan otak para ahli ekonomi yang tergabung dalam komunitas bernama Biro Penelitian Ekonomi Nasional Amerika Serikat (The NBER), kita menjadi tahu bahwa yang mendobelkan penderitaan akibat resesi the great recession itu adalah kegagalan panen bahan pangan yang mengglobal.
Robert J. Samuelson (November 2007), ahli ekonomi pemenang Nobel Ekonomi tahun 1970, memperkirakan potensi resesi ekonomi dunia kali ini pun bisa seperti resesi dunia 1930-an yaitu dipicu oleh krisis ekonomi AS. Maklum, AS hingga kini masih saja bertengger sebagai negara paling kuat di dunia alias pemimpin dunia. Total pendapatan masyarakat negara ini (Produk Domestik Bruto) setara dengan 20% pendapatan seluruh dunia. Apalagi setelah musuh terbesar terakhirnya jatuh, bahkan membubarkan diri sebagai negara tahun 1989, yakni Uni Soviet. Akan tetapi perlu dicatat, bahwa jatuh dan bubarnya Uni Soviet itu bukan karena AS mengkanvaskannya, melainkan lantaran persoalan ekonomi negara tersebut yang amat boleh jadi turut disebabkan oleh resesi dunia yang terjadi menjelang kebangkrutannya.
Dengan belajar dari sejarah rangkaian resesi dunia, jelas bahwa krisis pangan bukanlah biang keladi utama resesi ekonomi dunia. Akan tetapi kegagalan panen atau kelangkaan pangan di mana-mana di planet bumi ini bisa mendobelkan durasi dan penderitaan ekonomi seisi dunia. Belum kalau diperhitungkan bila kelangkaan bahan pangan ini lantas bersekutu dengan kelangkaan energi, maka boleh jadi bisa lebih dari itu waktu dan penderitaan kita akibat resesi dunia. Bahkan Warren Brussee dalam buku terbarunya The Second Great Depression (2008), telah mencium bau tak sedap resesi berat Amerika Serikat sejak tahun 2007 dan yang dia perkirakan bakal berkepanjangan hingga tahun 2020 dan karenanya akan menjadi Depresi Hebat Dunia Kedua setelah Depresi 1929-1939.
Masih berpelukan erat dengan ramalan berani Pa Direktur baru FAO itu juga, kini kita bisa mempelajari statistik dunia tata ruang dunia, diperkirakan bahwa luas lahan pertanian yang bisa dicetak hanya bisa mengompensasi 10% luas lahan pertanian yang hilang akibat alih fungsi lahan dan kerusakan lahan. Fenomena ini niscaya bukan hanya profil tata ruang lahan pertanian di Indonesia saja. Sayangnya memang PBB belum berinisiatif membuat semacam Rencana Tata Ruang Kawasan Pertanian Dunia (RTRKPD).
Trilogi Komoditas
Trilogi kunci strategis bagi daerah/negara/kawasan pemenang global pada masa depan sesungguhnya bukan hanya unggul di produksi pangan, melainkan tiga sekawan: pangan, energi dan pariwisata. Komunitas penguasa masing-masing komponen dari tiga sekawan tersebut akan dengan mudah membentuk persekutuan lewat strategi monopoli untuk menguasai dunia. Kesalingtergantungan yang menguntungkan dalam anggota oligopoli tersebut akan mendikte ekonomi global. Jadi, komunitas yang memimpin di urusan pangan saja tidak usah kuatir dimusuhi oleh komunitas yang memimpin di urusan energi atau turisme. Mereka akan dengan sadar akan bersinergi (berkoalisi) untuk memenangkan persaingan ekonomi dunia secara mutlak. Yang tidak punya keunggulan dari salah satu trilogi tersebut hanya akan menjadi penonton atau paling banter sebagai komplementer!
Ke arah mana pun Indonesia akan dibawa oleh para pemimpinnya sekarang ini, suka tidak suka akan berpapasan dengan penyesalan mengenai mengapa tidak dari dulu-dulu saja kita berkonsentrasi di trilogi komoditas: pangan, energi dan pariwisata. Mungkin kelak hanya Bali saja yang akan sukses sebagai pemenang di belahan Indonesia ini. Itu pun dengan catatan bahwa tanah subur di kawasan Utara Bali benar-benar dikembangkan tata ruangnya untuk pertanian lahan kering dan eksplorasi energi tenaga surya di Nusa Penida menjadi sangat diperhatikan seperti halnya perhatian orang Bali terhadap mesin uang pariwisata. Sayang, uang dan waktu kita saat ini tampaknya lebih banyak dihambur-hamburkan untuk mengongkosi demokrasi parpol (antara lain Pemilu dan Pilkada). Tapi sampai tahap prestasi Bali seperti sekarang ini saja, Daerah-daerah lain di Indonesia jangan malu untuk menyontek rahasia sukses Bali (tentu saja diadaptasikan dengan lokalitas yang dipunyai).
Petani Global Petani Pintar
Bahan pangan memang merupakan komoditas yang mempunyai sifat tidak elastik karena orang yang biasanya makan nasi satu piring tidak lantas menjadi dua piring nasi gara-gara harga beras lagi murah, atau sebaliknya. Hanya saja kalau orang kurang makan bukan hanya perutnya yang berontak dan penyakitan, tapi juga otak dan hatinya menjadi kacau balau. Dalam skala daerah atau nasional, semakin banyak orang yang tidak makan maka aneka penyakit sosial dan moral hazard bisa mewabah. Meningkatnya proporsi penduduk yang rawan daya beli pangan bisa sama dengan menumpuknya daya ledak bom waktu.
Thailand dan Vietnam adalah contoh bangsa yang amat sangat cerdas menangkap peluang pasar dan peluang industri global komoditas pangan. Beberapa bulan lalu terbetik kabar bahwa Thailand baru bersedia melepas simpanan berasnya kalau penduduk dunia bersedia membayar satu dollar AS perkilogramnya di tempat. Tampaknya memang kaum tani yang pintar akan mampu mengangkat derajat bangsanya sekaligus memberi makan saudara-saudaranya yang bukan petani. Thailand dan Vietnam juga, meskipun tidak punya potensi energi fosil atau panas bumi, diduga mempunyai kesadaran yang kental mengenai daya tarik obyek wisata alamiahnya bagi para pelancong global. Masyarakat Bali sudah menganggap kedua negara ini sebagai pesaing berartti di masa depan setelah Hawaii.
Memintarkan Petani Kita
UU Penataan Ruang No. 26 Tahun 2007 dan PP No 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional sebetulnya telah memberikan isyarat penting solutif bagi revitalisasi sub sektor pertanian tanaman pangan, khususnya dalam memintarkan masuarakat tani kita melalui konsep Agropolitan dan peruntukan Lahan Abadi Pertanian Tanaman Pangan. Kedua konsep tersebut yang kalau diterjemahkan dalam kebijakan operasionalnya sangat mungkin adalah: Dengan membangun kota-kota tani atau kota-kota kecil dalam kawasan-kawasan pertanian maka bukan hanya sektor hulu (produksi bahan pangan) yang bisa dinikmati petani, melainkan juga rantai nilai apsokan/pemasarannya. Sebetulnya bila konsep Agropolitan benar-benar akan diwujudkan dalam kawasan-kawasan pertanian, kemudian kesadaran teori Malthus dijadikan slogan produksi dan pemasaran produk bahan pangan di komunitas-komunitas petaninya, maka Insya Alloh kita bisa menyejajarkan diri dengan Thailand dalam memegang kendali pangan dunia. Malthus yang teorinya jumhur dan semakin terasa keterbuktiannya berkata bahwa sudah menjadi kodrat universal bahwa tingkat produksi bahan pangan hanya mengikuti deret tambah sedangkan pertumbuhan penduduk dunia berkhidmat kepada rumus deret ukur (perkalian).
Secercah harapan yang diberikan kebijakan tata ruang nasional tersebut seharusnya sudah bisa ditangkap oleh para politikus sejati kita dan menjadikannya sebagai magnet melalui Rencana-rencana Strategis Nasional. Dalam hal ini Daerah-daerah yang merasa mempunyai lahan subur juga bisa merasa tertantang untuk mengikuti jejak Thailand dan Vietnam. Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali yang telah jelas-jelas terbukti berlahan subur tidak perlu malu berguru kepada kedua negara tersebut. Barangkali krisis moneter dunia yang dipicu oleh krisis moneter Amerika Serikat sejak tahun lalu yang mungkin bisa meraksasa seperti Resesi Dunia 1930-an seperti telah disinyalir Warren Brussee tadi bisa mempertebal keyakinan kita kepada sub sektor pertanian tanaman pangan kita sebagai peluang Indonesia untuk memimpin ekonomi dunia pada masa mendatang. Tidak seperti sekarang yang seprtinya kita pasrah begitu sja dijadikan permainan ekonomi pertanian dunia: jagung dan kedelai serta beras mesti mengimpor dari AS, Thailand dan Vietnam.
George Soros, sang maestro pasar uang dunia, melalui buku terbarunya The New Paradigm for Financial Markets: The Credit Crisis of 2008 and What It Means mengatakan bahwa krisis ekonomi dunia yang dipicu oleh krisis moneter AS kali ini juga bertali temali dengan melambungnya harga energi dan bahan pangan. Gawatnya lagi ternyata Soros seolah menangkap adanya wangsit bahwa krisis ekonomi global kali ini sebetulnya sudah mencapai taraf prakondisi kehancuran ekonomi seperti pada resesi dunia 1930-an yang melegenda itu. “We are in the midst of the worst financial crisis since the 1930s.”
No comments:
Post a Comment