Thursday, 5 March 2009

Pemenang masa depan mestinya Petani!

Oleh Herman Hermit

Urusan yang paling tidak boleh tidak diabaikan adalah makan. Oleh sebab itu mungkin mengapa Direktur baru FAO belum apa-apa pada statemen pertama saat menduduki jabatannya beberapa bulan silam seolah mendapat wangsit dari langit ketujuh bahwa isu strategis masa depan dunia adalah naiknya harga pangan yang menyolok dan terus menerus hingga tahun 2030-an, seolah beliau tahu sebelum terjadi. Penjelasan logis beliau adalah kegagalan panen secara merata di dunia akan meningkat akibat kekacauan iklim/musim yang bakal menjadi-jadi lantaran bolong-bolong lapisan ozon di langit belum diketemukan bahan tambalannya.
Bertali temali dengan pikiran liar Pa Direktur baru FAO itu adalah sejarah alasan yang disodorkan beberapa pengamat ekonomi global mengenai mengapa resesi dunia 1929-1939 berkepanjangan (10 tahun) dan begitu memberatkan sehingga sejarah mencatatnya sebagai the great depression. Berkat kerajinan otak para ahli ekonomi yang tergabung dalam komunitas bernama Biro Penelitian Ekonomi Nasional Amerika Serikat (The NBER), kita menjadi tahu bahwa yang mendobelkan penderitaan akibat resesi the great recession itu adalah kegagalan panen bahan pangan yang mengglobal.
Robert J. Samuelson (November 2007), ahli ekonomi pemenang Nobel Ekonomi tahun 1970, memperkirakan potensi resesi ekonomi dunia kali ini pun bisa seperti resesi dunia 1930-an yaitu dipicu oleh krisis ekonomi AS. Maklum, AS hingga kini masih saja bertengger sebagai negara paling kuat di dunia alias pemimpin dunia. Total pendapatan masyarakat negara ini (Produk Domestik Bruto) setara dengan 20% pendapatan seluruh dunia. Apalagi setelah musuh terbesar terakhirnya jatuh, bahkan membubarkan diri sebagai negara tahun 1989, yakni Uni Soviet. Akan tetapi perlu dicatat, bahwa jatuh dan bubarnya Uni Soviet itu bukan karena AS mengkanvaskannya, melainkan lantaran persoalan ekonomi negara tersebut yang amat boleh jadi turut disebabkan oleh resesi dunia yang terjadi menjelang kebangkrutannya.
Dengan belajar dari sejarah rangkaian resesi dunia, jelas bahwa krisis pangan bukanlah biang keladi utama resesi ekonomi dunia. Akan tetapi kegagalan panen atau kelangkaan pangan di mana-mana di planet bumi ini bisa mendobelkan durasi dan penderitaan ekonomi seisi dunia. Belum kalau diperhitungkan bila kelangkaan bahan pangan ini lantas bersekutu dengan kelangkaan energi, maka boleh jadi bisa lebih dari itu waktu dan penderitaan kita akibat resesi dunia. Bahkan Warren Brussee dalam buku terbarunya The Second Great Depression (2008), telah mencium bau tak sedap resesi berat Amerika Serikat sejak tahun 2007 dan yang dia perkirakan bakal berkepanjangan hingga tahun 2020 dan karenanya akan menjadi Depresi Hebat Dunia Kedua setelah Depresi 1929-1939.
Masih berpelukan erat dengan ramalan berani Pa Direktur baru FAO itu juga, kini kita bisa mempelajari statistik dunia tata ruang dunia, diperkirakan bahwa luas lahan pertanian yang bisa dicetak hanya bisa mengompensasi 10% luas lahan pertanian yang hilang akibat alih fungsi lahan dan kerusakan lahan. Fenomena ini niscaya bukan hanya profil tata ruang lahan pertanian di Indonesia saja. Sayangnya memang PBB belum berinisiatif membuat semacam Rencana Tata Ruang Kawasan Pertanian Dunia (RTRKPD).
Trilogi Komoditas
Trilogi kunci strategis bagi daerah/negara/kawasan pemenang global pada masa depan sesungguhnya bukan hanya unggul di produksi pangan, melainkan tiga sekawan: pangan, energi dan pariwisata. Komunitas penguasa masing-masing komponen dari tiga sekawan tersebut akan dengan mudah membentuk persekutuan lewat strategi monopoli untuk menguasai dunia. Kesalingtergantungan yang menguntungkan dalam anggota oligopoli tersebut akan mendikte ekonomi global. Jadi, komunitas yang memimpin di urusan pangan saja tidak usah kuatir dimusuhi oleh komunitas yang memimpin di urusan energi atau turisme. Mereka akan dengan sadar akan bersinergi (berkoalisi) untuk memenangkan persaingan ekonomi dunia secara mutlak. Yang tidak punya keunggulan dari salah satu trilogi tersebut hanya akan menjadi penonton atau paling banter sebagai komplementer!
Ke arah mana pun Indonesia akan dibawa oleh para pemimpinnya sekarang ini, suka tidak suka akan berpapasan dengan penyesalan mengenai mengapa tidak dari dulu-dulu saja kita berkonsentrasi di trilogi komoditas: pangan, energi dan pariwisata. Mungkin kelak hanya Bali saja yang akan sukses sebagai pemenang di belahan Indonesia ini. Itu pun dengan catatan bahwa tanah subur di kawasan Utara Bali benar-benar dikembangkan tata ruangnya untuk pertanian lahan kering dan eksplorasi energi tenaga surya di Nusa Penida menjadi sangat diperhatikan seperti halnya perhatian orang Bali terhadap mesin uang pariwisata. Sayang, uang dan waktu kita saat ini tampaknya lebih banyak dihambur-hamburkan untuk mengongkosi demokrasi parpol (antara lain Pemilu dan Pilkada). Tapi sampai tahap prestasi Bali seperti sekarang ini saja, Daerah-daerah lain di Indonesia jangan malu untuk menyontek rahasia sukses Bali (tentu saja diadaptasikan dengan lokalitas yang dipunyai).
Petani Global Petani Pintar
Bahan pangan memang merupakan komoditas yang mempunyai sifat tidak elastik karena orang yang biasanya makan nasi satu piring tidak lantas menjadi dua piring nasi gara-gara harga beras lagi murah, atau sebaliknya. Hanya saja kalau orang kurang makan bukan hanya perutnya yang berontak dan penyakitan, tapi juga otak dan hatinya menjadi kacau balau. Dalam skala daerah atau nasional, semakin banyak orang yang tidak makan maka aneka penyakit sosial dan moral hazard bisa mewabah. Meningkatnya proporsi penduduk yang rawan daya beli pangan bisa sama dengan menumpuknya daya ledak bom waktu.
Thailand dan Vietnam adalah contoh bangsa yang amat sangat cerdas menangkap peluang pasar dan peluang industri global komoditas pangan. Beberapa bulan lalu terbetik kabar bahwa Thailand baru bersedia melepas simpanan berasnya kalau penduduk dunia bersedia membayar satu dollar AS perkilogramnya di tempat. Tampaknya memang kaum tani yang pintar akan mampu mengangkat derajat bangsanya sekaligus memberi makan saudara-saudaranya yang bukan petani. Thailand dan Vietnam juga, meskipun tidak punya potensi energi fosil atau panas bumi, diduga mempunyai kesadaran yang kental mengenai daya tarik obyek wisata alamiahnya bagi para pelancong global. Masyarakat Bali sudah menganggap kedua negara ini sebagai pesaing berartti di masa depan setelah Hawaii.
Memintarkan Petani Kita
UU Penataan Ruang No. 26 Tahun 2007 dan PP No 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional sebetulnya telah memberikan isyarat penting solutif bagi revitalisasi sub sektor pertanian tanaman pangan, khususnya dalam memintarkan masuarakat tani kita melalui konsep Agropolitan dan peruntukan Lahan Abadi Pertanian Tanaman Pangan. Kedua konsep tersebut yang kalau diterjemahkan dalam kebijakan operasionalnya sangat mungkin adalah: Dengan membangun kota-kota tani atau kota-kota kecil dalam kawasan-kawasan pertanian maka bukan hanya sektor hulu (produksi bahan pangan) yang bisa dinikmati petani, melainkan juga rantai nilai apsokan/pemasarannya. Sebetulnya bila konsep Agropolitan benar-benar akan diwujudkan dalam kawasan-kawasan pertanian, kemudian kesadaran teori Malthus dijadikan slogan produksi dan pemasaran produk bahan pangan di komunitas-komunitas petaninya, maka Insya Alloh kita bisa menyejajarkan diri dengan Thailand dalam memegang kendali pangan dunia. Malthus yang teorinya jumhur dan semakin terasa keterbuktiannya berkata bahwa sudah menjadi kodrat universal bahwa tingkat produksi bahan pangan hanya mengikuti deret tambah sedangkan pertumbuhan penduduk dunia berkhidmat kepada rumus deret ukur (perkalian).
Secercah harapan yang diberikan kebijakan tata ruang nasional tersebut seharusnya sudah bisa ditangkap oleh para politikus sejati kita dan menjadikannya sebagai magnet melalui Rencana-rencana Strategis Nasional. Dalam hal ini Daerah-daerah yang merasa mempunyai lahan subur juga bisa merasa tertantang untuk mengikuti jejak Thailand dan Vietnam. Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali yang telah jelas-jelas terbukti berlahan subur tidak perlu malu berguru kepada kedua negara tersebut. Barangkali krisis moneter dunia yang dipicu oleh krisis moneter Amerika Serikat sejak tahun lalu yang mungkin bisa meraksasa seperti Resesi Dunia 1930-an seperti telah disinyalir Warren Brussee tadi bisa mempertebal keyakinan kita kepada sub sektor pertanian tanaman pangan kita sebagai peluang Indonesia untuk memimpin ekonomi dunia pada masa mendatang. Tidak seperti sekarang yang seprtinya kita pasrah begitu sja dijadikan permainan ekonomi pertanian dunia: jagung dan kedelai serta beras mesti mengimpor dari AS, Thailand dan Vietnam.
George Soros, sang maestro pasar uang dunia, melalui buku terbarunya The New Paradigm for Financial Markets: The Credit Crisis of 2008 and What It Means mengatakan bahwa krisis ekonomi dunia yang dipicu oleh krisis moneter AS kali ini juga bertali temali dengan melambungnya harga energi dan bahan pangan. Gawatnya lagi ternyata Soros seolah menangkap adanya wangsit bahwa krisis ekonomi global kali ini sebetulnya sudah mencapai taraf prakondisi kehancuran ekonomi seperti pada resesi dunia 1930-an yang melegenda itu. “We are in the midst of the worst financial crisis since the 1930s.”

Wednesday, 4 February 2009

Krisis Ekonomi Global

oleh Herman Hermit

Globalisasi telah lama berlangsung dalam lapangan perekonomian. Gerakan komoditas dan uang lintas negara sudah lama kita rasakan bersama. Membawa uang berkarung-karung atau hanya beberapa lembar dalam dompet di pesawat terbang adalah sama saja, tidak akan ada yang merintangi, itu contoh sederhana. Uang bukan jenis bom atau narkoba, jadi tidak dilarang dibawa kemana-mana. Ekonomi tidak mempunyai wilayah negara, tanpa batas wilayah alias borderless. Akan tetapi yang paling prinsip adalah kenyataan bahwa tak ada lagi negara di dunia ini yang menganut sistem perekonomian tertutup yang mengasingkan diri sendiri dari perekonomian dunia. Buktinya, hampir tidak ada negara yang tidak melakukan perdagangan internasional (ekspor-impor).
Sistem ekonomi tertutup hanya ada di buku-buku pengantar teori makroekonomi sebagai pengetahuan dasar mengenai sistem bekerjanya ekonomi statis. Itu sebabnya mengapa resesi ekonomi yang terjadi di belahan bumi yang nunjauh di sana dampaknya bisa kita rasakan di sini. Terlebih kalau yang mula pertama mengalami resesi itu terbilang masyarakat/bangsa di negara-negara yang nyata-nyata kuat secara ekonominya, terutama pasar finansialnya. Maklum, jumlah nilai transaksi pasar uang/moneter/modal di dunia konon mencapai hampir 10X jumlah nilai transaksi barang (pasar komoditas). Ini juga yang bisa sedikit menjelaskan mengapa cukup dengan beberapa maestro pasar moneter/modal kelas dunia bisa menggoyang perekonomian beberapa negara di Asia pada kasus Krismon Asia tahun 1997-1998. Nah, bisa kita bayangkan bagaimana kalau ada puluhan atau ribuan maestro pasar modal seperti itu yang gemar bermain-main di dunia ini?
Oleh karena itu juga, resesi ekonomi yang hebat atau depresi yang terjadi di Amerika Serikat atau Jepang, misalnya, pastilah cepat atau lambat bakal berpengaruh ke seluruh penjuru dunia, dan biang keladinya bukan hanya karena kegagalan pasar barang (riel market) melainkan terutama karena kegagalan pasar uang/modal/moneter (financial/capital market). Dengan demikian apa yang dimaksudkan dengan ekonomi adalah terdiri dari pasar barang (goods) dan pasar uang (financial). Dan boleh jadi benar kata pepatah Inggris yang mengatakan bahwa uang adalah hantu yang dibutuhkan (money is necessary evil). Artinya, dalam dosis yang pas, kejutan-kejutan di pasar uang dibutuhkan dalam perekonomian – prinsip demikian yang sebetulnya jadi pola pikir atau strategi dalam kebijakan-kebijakan moneter oleh pemerintah melalui bank sentralnya (BI).
Perjalanan perekonomian ternyata juga bergelombang. Bagai ombak di laut. Naik dan turun silih berganti, terkadang tenang datar sebentar. Sepasang gelombang naik-turun, sebuah gunungan dan sebuah cekungan, dalam perkonomian disebut dengan siklus bisnis (business cycle). Dan ketika gelombang itu sedang di bawah relatif lebih dalam dari biasanya dan lebih lama dari biasanya maka disebut resesi. Bilamana resesi itu lebih parah lagi, maka orang ekonomi menyebutnya dengan depresi atau depresi berat (great depression) seperti yang terjadi pada secara global di dunia pada awal tahun 1930-an. Jelaslah bahwa resesi ataupun depresi menggambarkan lesunya perekonomian sebuah masyarakat (bisa skala bangsa, regionl ataupun dunia).
Kalau tadi siklus bisnis diibaratkan gelombang-gelombang laut bersusulan tak pernah henti. Maka resesi bisa juga dibayangkan sebagai gempa bumi, dimulai dengan gempa-gempa kecil yang berdekatan waktunya, terus meningkat menjadi gempa besar, selanjutnya gempa-gempa susulan yang semakin mengecil akan mengakhiri suatu periode gempa. Bedanya, kejadian gempa, sebagaimana fenomena alam lainnya seperti banjir, terjadi searah (tidak ada hubungan sebab-akibat bolak balik). Kita tidak bisa membuat agar gempa terjadi, melainkan hanya menerima saja dan paling banter hanya bisa menjelaskan mengapa terjadi gempa. Sedangkan fenomena ekonomi, sebagaimana halnya fenomena sosial lainnya, kejadiannya bisa berlangsung di atas dasar hubungan sebab-akibat dalam dua arah. Dalam aktivitas ekonomi, manusia bisa mempengaruhinya agar terjadi “gempa ekonomi” seperti resesi ataupun depressi. Coba saja Amerika Serikat suruh bersepakat dengan Jepang untuk meletuskan Perang Dunia Ketiga selama sebulan saja, pastilah terjadi resesi berat dunia, tetapi tidak akan menyebabkan gempa bumi. George Soros (2001) dalam bukunya The Crisis of Global Capitalism pernah menggambarkan beda antara fenomena ekonomi dan fenomena alam demikian dalam konteks penjelasannya bahwa kapitalisme global telah gagal menjalankan perannya. Sebuah buku seru yang mengasyikan juga untuk dibaca dan membuat kita mengerti anatomi kapitalisme dan bekerjanya kapitalisme dalam menghebohkan masyarakat dunia. Dengan hanya berpindah-pindah bank untuk berburu tingkat bunga deposito yang lebih tinggi saja, sebetulnya kita telah mempraktekkan kapitalisme, mungkin tanpa disadari sendiri oleh sekalipun seorang pengecam kapitalisme tapi dia sendiri berburu bunga deposito yang paling bagus (rent seeker). Hanya, tentu saja, yang dibicarakan Soros bukan praktek kapitalisme recehan seperti itu, tapi kapitalisme yang massif dan global.
Alhasil, resesi itu bisa berlangsung satu hingga belasan tahun bahkan puluhan tahun, dan manusia pelaku ekonomi dunia bisa saja membuat/menyebabkan resesi terjadi kapan saja. Dalam satu periode resesi terjadi fluktuasi tekanan ekonomi. Tekanan-tekanan inilah yang membuat orang-orang yang terkena dampak menderita. Tekanan-tekanan yang paling lumrah terjadi dari suatu resesi dapat disebut di sini: angka pengangguran meningkat, banyak perusahaan bangkrut, harga-harga melonjak (angka inflasi tinggi), dan yang paling mengerikan adalah banyak orang jatuh miskin. Hanya orang yang siap betulan, dengan pasang berbagai jurus kuda-kuda sebelumnya, alias siaga (berkat ramalan para ahli ekonomi), yang tidak terlalu menderita menjalani masa resesi.
Buku ini lebih berkonsentrasi pada resesi global (yang mendunia). Biang keladi mewabahnya resesi global demikian biasanya ditudingkan kepada memburuknya kesehatan perekonomian beberapa negara superkuat seperti Amerika Serikat dan Jerman (ditambah Jepang sekarang) berlama-lama. Cukup satu saja dari ketiga negara tersebut bersin-bersin, maka sudah cukup untuk menjadikan negara-negara setengah miskin dan setengah berkembang seperti Indonesia terkena influensa berkepanjangan. Apalagi kalau ternyata mereka bukan hanya bersin-bersin, tapi malah flu berat, dampaknya bisa sampai kutub selatan. Masalahnya kekayaan negara-negara miskin dan berkembang biasanya telah diijonkan alias digadaikan kepada negara-negara maju demi hutang luar negeri. Selain itu biasanya negara-negara belum maju ini sangat bergantung kepada lancarnya arus ekspor ke negara-negara maju – sangat berpengaruh terhadap kesehatan neraca perdagangan atau transaksi berjalan dalam konteks perdagangan internasionalnya.



Belakangan, kabar buruknya, seperti diramalkan salah satu ahli ekonomi nomor wahid asal Amerika Serikat Robert Samuelson (2007), bahwa Amerika Serikat dimungkinkan segera memasuki stadium gawat resesi berat alias depresi. Dia bilang di awal tulisannya untuk majalah Time edisi 27-11-2007 secara cukup dramatis bahwa isyarat-isyarat awal yang menandai Amerika Serikat memasuki resesi berat sebetulnya sudah sama-sama kita ketahui dan rasakan sekarang juga walaupun kita hanya bisa harap-harap cemas untuk tidak terjadi demikian. (We are all waiting, it seems, for the next recession. Everyone knows that the business cycle hasn't been repealed, and so another recession is inevitable sooner or later. Some indicators now suggest that it might be sooner.)
Tak jauh beda dengan Samuelson, terawangan Warren Brussee, si penulis buku sangat laris berjudul The Second Great Depression (2008), telah mencium bau tak sedap resesi berat Amerika Serikat sejak tahun 2007 dan yang dia perkirakan bakal berkepanjangan hingga tahun 2020. Saking larisnya buku tersebut, penulis sempat berkali-kali gagal membeli buku di toko buku maya Amazon.com karena persediaan habis. Maklum si penulis buku adalah pakar statistika ekonomi yang masyhur gara-gara berhasil memproklamasikan teori ilmu statistika Six Sigma yang kemudian amat populer itu.
Masih tetang Amerika Serikat, Diana Furchtgott-Rott seorang anggota senior Institut Hudson dan ahli ekonomi terkemuka di Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat menulis di Amarican Magazine edisi 21-12-2007 bahwa negaranya memang prospektif untuk memasuki resesi berat mulai tahun 2008. Dia menulis dengan gaya menyindir bahwa memang yang berhak mendefinisikan telah atau tidak terjadinya resesi di Amerika Serikat adalah keputusan subyektif Biro Penelitian Ekonomi Nasional AS. Jadi, orang sembarangan sperti saya tidak berhak memverifikasinya. Hanya saja kesimpulan dari verifikasi mereka baru bisa kita dengar setelah sekian lama pasca memasuki resesi dan setelah sekian lama pasca berakhirnya resesi. (Whether or not there is a 'recession' in 2008 will depend both on actual economic activity and on the subjective judgments of the National Bureau of Economic Research). Artinya, pengumuman resmi dari badan resmi para pakar ekonomi dunia itu baru bisa kita peroleh setelah kita mati lemas karena kelaparan.
Sialnya lagi, Jepang, si samurai piawai ekonomi sekaligus si jagoan ninja industri otomotif itu juga disinyalir sudah mulai sesak nafas, bahkan sejak tahun 1990! Yoichi Arai dan Takeo Hoshi (2003) yang juga pakar ekonomi asal Jepang tapi bergiat di Amerika Serikat, membuktikan secara matematika rumit bahwa Jepang sebetulnya sudah memasuki resesi berat secara moneter sejak kwartal pertama tahun 1990 sampai dengan tahun 2002 (saat bunga tabungan dan deposito terpaksa dinolpersenkan sebagai kebijakan anti deflasi pemerintah Jepang). Hingga mereka mempubublikasikannya pada tahun 2004, mereka belum yakin betul bahwa kesehatan moneter Jepang sudah pulih – sebagaimana disampaikannya dalam banyak workshop moneter di Jepang, Eropa dan Amerika Serikat.
Kita mungkin tidak mudah melihat dengan mata telanjang suatu penderitaan dalam masyarakat Jepang, mengingat baik pemerintah maupun masyarakat jepang terkenal gemar menabung. Pemerintah Jepang cukup meminjam uang dari rakyatnya sendiri ketika pemerintah kesulitan uang. Saking gemarnya menabung, maka sejak tahun 2002 bank-bank di Jepang tidak memberikan bunga kepada tabungan ataupun deposito, namun tetap saja mereka menabung (daripada disimpan di bawah kasur). Kebijakan bunga tabungan nol persen ini dimaksudkan pemerintah Jepang untuk mengerem laju deflasi alias inflasi negatif alias harga barang-barang relatif semakin menurun (bukannya naik terus seperti di kita). Hanya saja, baik inflasi maupun deflasi adalah sama-sama kurang sehat bagi perekonomian yang harus tumbuh dan stabil agar lebih menyejahterakan sebanyak-banyaknya orang.
Samelson, menyebut tiga ciri penting bahwa Amerika Serikat cepat atau lambat akan memasuki resesi ekonomi parah (great recession). Ketiga ciri tersebut adalah:
(1) Bisnis perumahan dan real estate semaput. Angka penjualan rumah-rumah baru anjlok 42% dan penjualan rumah-rumah lama turun 30% terhitung sejak dua tahun lalu (Januari 2006). Ini disebabkan angka pasokan rumah-rumah baru yang tidak terjual malah tumbuh terus hingga harga-harga rumah secara nasional turun, misalnya pada bulan Agustus 2006 tercatat turun 4,4% bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Penurunan harga tertinggi di Miami 7,8%, kemudian Los Angeles 5,7%. Maklum, porsi bisnis real estate dalam perekonomian AS terbilang dominan. Lesunya permintaan terhadap perumahan di AS telah merembet kepada lesunya permintaan masyarakat mereka terhadap produk manufaktur. Melemahnya agregat permintaan masyarakat AS terhadap perumahan dan yang diikuti oleh produk industri manufaktur mereka, bukan hanya akan merontokkan nilai saham perusahaan-perusahaan real estate dan industri manufaktur di pasar saham, akan tetapi juga meningkatkan tingkat pengangguran di AS – hingga pertengahan 2008 diperkirakan sudah mencapai 5%.
(2) Melambungnya harga minyak dunia di atas 90 dollar AS perbarel, dan akan menggila terus bila Turki betul-betul menyerang Irak. Naiknya minyak telah menyebabkan naiknya ongkos hidup konsumen secara keseluruhan untuk energi yang mencapai 6,2%. Belum lagi efek dominonya (second round effect) terhadap naiknya biaya konsumsi untuk barang-barang lain dan jasa yang bermuara kepada melemahnya daya beli masyarakat dan pemerintah – akhir Mei 2008 harga minyak mentah sudah mencapai 125 USD perbarel.
(3) Kredit macet. Pemberi pinjaman (debitur) dan investor menderita kerugian besar dalam kasus kredit pemilikan rumah dan kredit konstruksi dengan agunan realestate yang terkenal dengan istilah subprime mortgage. Perlambatan ekonomi gara-gara kredit perumahan ini secara keseluruhan membuat anjlok harga-harga saham di bursa, terutama saham perusahaan-perusahaan yang hidup dan matinya sangat bergantung kepada besar kecilnya belanja konsumsi masyarakat. Dalam kasus kredit macet real estate ini, para pengembang dapat diibaratkan berperilaku “gali lubang tutup lubang”, atau pemegang kartu kredit yang menggesek kartu kreditnya untuk menutup tagihan minimum bulanan kartu kredit yang sama.
Rupa-rupanya resesi ekonomi pun punya nama populer atau nama komersialnya, seperti selebriti alias pesohor kita. Itu berkat kerajinan otak para ahli ekonomi yang tergabung dalam komunitas bernama Biro Penelitian Ekonomi Nasional Amerika Serikat (The NBER). Maklum, kalau tidak disebabkan oleh AS, resesi dunia yang biang keladinya entah dari belahan dunia manapun, sedikit banyaknya akan mempengaruhi AS, yang hingga kini masih saja bertengger sebagai negara paling kuat di dunia alias pemimpin dunia. Maklum total pendapatan masyarakat negara ini (Produk Domestik Bruto) setara dengan 20% pendapatan seluruh dunia. Apalagi setelah musuh terbesar terakhirnya jatuh, bahkan membubarkan diri sebagai negara tahun 1989, yakni Uni Soviet. Akan tetapi perlu dicatat, bahwa jatuh dan bubarnya Uni Soviet itu bukan karena AS mengkanvaskannya, melainkan lantaran persoalan ekonomi negara yang amat boleh jadi turut disebabkan oleh resesi dunia yang terjadi menjelang kebangkrutannya.
Baiklah kita buat sebuah daftar resesi dunia yang sempat tercatat di berbagai literatur dunia, terutama dalam textbook-textbook berbau ilmu ekonomi, lebih terutama lagi yang dicermati dan diberi nama oleh NBER (The National Bureau of Economic Reserch) Amerika Serikat. Berikut adalah daftar resesi dimaksud:

Tabel 1-1
Nama-nama Sohor Resesi Dunia
Nama sohor
Tahun (lamanya)
Biang keladi (penyebab)
Panik 1797
1797–1800 (3 tahun)
Dampak deflasi/penurunan drastis suku bunga Bank of England menyeberangi Samudra Atlantik hingga sampai Amerika Utara dan terganggunya perdagangan dan pasar real estate di AS dan kawasan Karibia. Perekonomian Inggris ketika itu sangat dipengaruhi oleh menguatnya arus balik inflasi yang disebabkan peperangan di Perancis dalam Perang-perang Revolusi Perancis.
Depresi 1807
1807–1814 (7 tahun)
Undang-undang Embargo AS tahun 1807 di bawah Presiden Thomas Jeffersondisetujui Kongres , telah merusak perdagangan hasil industri-industri. Kaum Federal melawan embargo tersebut dengan membolehkan penyelundupan di di New England.
Panik 1819
1819–1824
(5 tahun)
Krisis keuangan terbesar pertama di AS yang dicirikan dengan penyitaan besar-besaran, kejatuhan perbankan, pengangguran, kemerosotan pertanian dan pabrik-pabrik. Juga ditandai dengan berakhurnya ekspansi ekonomi pasca Perang tahun 1812.
Panik 1837
1837–1843
(6 tahun)
Penurunan tajam perekonomian AS yang disebabkan kejatuhan perbankan dan kehilangan kepercayaan pada saham. Pasar-pasar spekulasi yang meluas telah membuat bank-bank menghentikan pembayaran dalam bentuk koin emas dan perak.
Panik 1857
1857–1860
(3 tahun)
Jatuhnya the Ohio Life Insurance and Trust Company memicu masyarakat Eropa berspekulasi dalam proyek pembangunan jalan kereta api di AS, dan disebabkan oleh hilangnya kepercayaan bank-bank Amerika. Tercatat 5000 buah perusahaan bangkrut dalam tahun pertama resesi ini, dan pengangguran telah menyuburkan potes/demonstrasi di kawasan-kawasan perkotaan.
Panik 1873
1873–1879
(6 tahun)
Economic problems in Europe prompted the failure of the Jay Cooke & Company, the largest bank in the United States, which bursted the post-Civil War speculative bubble. The Coinage Act of 1873 also contributed by immediately depressing the price of silver, which hurt North American mining interests.
Depresi berkepanjangan
1873–1896
(23 tahun)
The collapse of the Vienna Stock Exchange caused a depression that spread throughout the world. It is important to note that during this period, the global industrial production greatly increased. In the United States, for example, industrial output increased fourfold.
Panik 1893
1893–1896
(3 tahun)
Failure of the United States Reading Railroad and withdrawal of European investment lead to a stock market and banking collapse. This Panic was also precipitated in part by a run on the gold supply.
Panik 1907
1907–1908
(1 tahun)
A run on Knickerbocker Trust Company stock on October 22, 1907 set events in motion that would later lead to the Great Depression in the United States.
Resesi pasca Perang Dunia I
1918–1921
(3 tahun)
Severe hyperinflation in Europe took place over production in North America. It was a brief, but very sharp recession and was caused by the end of wartime production, along with an influx of labor from returning troops. This in turn caused high unemployment.
Depresi berat (Great Depression)
1929–1939
(10 tahun)
Bursa-bursa saham anjlok berat dan perbankan mati suri di AS.
Resesi 1953
1953–1954
(1 tahun)
Perpindahan uang kedalam saham besar-besaran pada period inflasi hebat pasca perang Korea. Bank sentral AS mengubah kebijakan fiskal menjadi lebih ketat karena ketakutan oleh inflasi tersebut.
Resesi 1957
1957–1958
(1 tahun)
Kebijakan uang ketat selama 2 tahun sebelum tahun 1957. Perubahan kebijakan anggaran dari APBN surplus 0,8% PDB tahun 1957 menjadi APBN defisit 0,6% PDB pada tahun 1958, dan APBN defisit 2,6% PDB pada tahu 1959.
Krisis minyak 1973
1973–1975
(2 tahun)
OPEC menaikkan harga minyak 4 kali lipat yang dibarengi dengan belanja pemerintah besar-besaran dalam Perang Vietnam yang menuntun kepada stagflasi AS.
Resesi awal 1980-an.
1980–1982
(2 tahun)
Revolusi Iran memperkuat kenaikan harga minyak tahun 1979 yang menyebabkan krisis energi tahun 1979. Ini disebabkan kekuatan rezim baru Iran yang mengurangi volume ekspor minyak untuk melambungkan harga minyak dunia. Kebijakan uang ketat di AS untuk mengendalikan inflasi telah melahirkan resesi lainnya.
Resesi awal 1990-an.
1990–1991
(1 tahun)
Produksi industri dan penjualan industri manufaktur menurun tajam pada awal 1991.
Resesi awal 2000-an.
2001–2003
(2 tahun)
Bangkrutnya dot-com, serangan 11 September, dan skandal keuangan telah memberi andil kepada melesunya perekonomian Amerika utara.
(Sumber: dari berbagai sumber, antara lain en.wikipedia.com.) (by Herman Hermit)